Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

....

selamat datang di blogger kondang.BLOGGER KONDANG hanyalah SEBUAH NAMA,karena kebingungan milih nama,yaudah jadilah blogger kondang.WALAUPUN TAK SEKONDANG ORANGNYA DAN KEMAMPUAN NYA HEEEE...HE...100XXXXXXXX!!BERBAGI INFORMASI YANG MENARIK DARI BERBAGAI SUMBER.,,TERMASUK DARI BLOG SEBELAH TUH..HEE...!!!!!!!!!!!!!!!!!
Tampilkan postingan dengan label kisah mengharukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah mengharukan. Tampilkan semua postingan

kisah wanita malang yang gantung diri

Written By bisnis online on Minggu, 03 April 2011 | 20.39

. Kasihan GADIS Muda Ini Gantung Diri Gara2 Dihina dan Diejek (Renungkan..!)


Beberapa tahun yg lalu, seorang gadis berumur 15 tahun bernama Lisa Marie meninggal gantung diri di rumahnya.Dia seorang gadis manis dan tinggal di Michigan. Lima hari setelah kematiannya , ibunya menemukan buku hariannya di kamarnya. Ibunya ingin mengetahui sebab kematiannya.

Berikut adalah isi buku harian tsb:

November 7
Dear Diary, hari ini hari pertama sekolah di Michigan. Pada saat saya masuk kelas, saya diejek murid2 cowok yg menyebut saya org aneh. Inilah awal hari yg buruk.Kemudian bbrp murid cewek cantik dan populer mendatangi saya dan memperkenalkan diri mereka. Mereka mengatakan saya org terjelek yg pernah mereka temui.Saya pun menangis.

Saya lalu pulang ke rumah and menelepon Jake. Saya pikir hari ini akan menjadi lbh baik. Namun dia katakan bhw hubungan jarak jauh tidak bisa bertahan ;sekrg dia tingg al di California. Lalu saya katakan bhw saya mencintainya dan rindu padanya. Tetapi dia mengakui bhw alasan dia pacaran dgn saya adalah krn dia ditantang teman2nya. Dia lalu memutuskan hubungan padahal kami sdh berpacaran selama 2 1/2 thn.

November 9
Saya sungguh rindu pada Jake. Tapi dia merubah nomor telp-nya shg saya tdk bisa menghubunginya. Hari ini seorang cowok populer mengajak saya ke pesta dansa. Kemudian cewek2 cantik kemarin mengajak saya makan siang bersama. Wow, sungguh menyenangkan !

November 10
Saya sdg menangis skrg. Ternyata cowok itu brengsek. Dia menumpahkan minumannya pada baju saya lalu cewek2 itu mengoyak baju saya. Semua org menertawakan saya.Lalu nenek memberitakan bhw papa dan mama tabrakan pagi ini dan mrk dlm keadaan kritis. Saya tdk sanggup menulis lagi.

November 11
Hari ini Sabtu , nenek dan saya di rumah sakit sepanjang malam. Papa meninggal pagi ini. Mama lumpuh seumur hidup. Sewaktu di RS , nenek baru tahu dia diserang kanker perut dan harus dikemoterapi. Saya msh tdk percaya Papa sdh meninggal. Saya sdh capek menangis. Saya letih. Saya hrs tidur.

November 12
Papa tdk meninggal ! Tidak mungkin ! Ini semua hanya mimpi. Hidup saya sempurna. Jake msh mencintai saya. Saya tdk bisa menulis lagi. Saya sdh menangis terlalu lama. Saya ingin mati. Bawalah saya.

Keesokan harinya Lisa ditemukan tewas gantung diri dengan tali berwarna kuning. Saya ibunya. Nama saya Miranda Gonzalez. Saya menulis email ini agar org lain tidak mengalami apa yg dialami anak saya. Ingatlah semua orang ingin dicintai dan dipeluk setiap hari.
sumber: http://bacaananda.blogspot.com/2011/02/tak-ada-seorang-pun-di-dunia-ini-yang.html
zzz
20.39 | 0 komentar

Sepuluh Tahun Mengais Dollar, Suamiku Berkhianat Di Kampung Dengan Uangku

Written By bisnis online on Senin, 21 Maret 2011 | 21.28

Sepuluh Tahun Mengais Dollar, Suamiku Berkhianat Di Kampung Dengan Uangku




Panggil saja namaku Ayu. Aku dan adikku sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Kata ayahku, ibu pergi meninggalkan kami karena terbuai dengan laki-laki lain.

Aku pun tidak pernah mempersoalkan aku punya ibu atau tidak, yang penting ayah dan nenekku menyayangiku. Aku rasa itu sudah cukup.Setiap hari ayah bekerja sebagai sopir angkot miliknya sendiri.

Seiring berjalannya waktu aku tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Karena kesibukan ayah bekerja dan nenek sibuk dengan dagangan di tokonya, aku sering lepas dari awasan mereka. Aku sering keluyuran dengan teman-temanku yang ga bener.

Bahkan mereka mengajariku bagaimana memakai barang-barang terlarang tanpa sepengetahuan ayahku. Kadang aku jengkel kalau melihat ayah pulang dalam keadaan mabuk. Tapi aku dan adikku serta nenek tidak dapat berbuat banyak dengan kebiasaan ayah itu. Bahkan aku sendiri semakin terjerat pergaulan bebas.

Suatu ketika ayahku mengutarakan keinginannya untuk menikah lagi dengan seorang janda kaya tetangga desaku. Aku pun mengiyakanya. Toh..ayah sudah hampir lima belas tahun lebih tidak mau cari pengganti ibuku. Aku berharap ibu tiriku dapat merubah sikap ayah yang suka mabuk-mabukan. Dan benar saja, Ibu tiriku ternyata orangnya baik dan penyayang. Dia menyayangiku dengan adikku seperti anaknya sendiri. Dan ayahpun semakin rajin bekerja mengelola tambak ikan milik istrinya serta tidak pernah mabuk-mabukan lagi.

Setelah lulus smp aku engan meneruskan sekolah lagi. Sepertinya ibu tiriku mulai mengetahui kenakanlanku. Suatu hari dia memanggilku dan memintaku untuk membantu bekerja di restauran miliknya. Aku tidak bisa menolak permintaanya. Sejak saat itulah aku mulai tertarik dengan usaha restoran ibuku. Karena ingin mempunyai usaha restoran sendiri akhirnya aku memutuskan pergi ke Hongkong dengan tujuan mencari modal. Ketika ku utarakan niatku , ayah menolak mentah-mentah keinginanku. Aku terus menyakinkan ayah bahwa aku mampu menjaga diri disana.

Akhirnya ayah merelakan aku pergi kenegeri beton. Aku bersyukur setelah sampai di Hongkong aku mendapatkan majikan yang baik sekali. Bahkan mereka berangkat kerjapun masih membiarkan aku terlelap bersama dua anaknya yang aku asuh. Genap empat tahun tepatnya kontrak keduaku selesai aku meminta ijin cuti pulang keindonesia kepada majikanku. Aku meminta ijin kepada mereka untuk menikah dengan cowok teman sepermainanku dulu. Sebenarnya kami pacaran hanya lewat kawat maksudku pacaran lewat telpon saja.

Singkat cerita aku menikah dengan teman sepermainanku sebut saja namanya Andy. Dia anak seorang kyai yang menurutku orangnya baik. Karena kontrak kerjaku di Hongkong sudah kutanda tangani aku harus kembali berangkat menjadi tkw lagi dan berpisah dengan suamiku yang baru menikahiku tiga minggu. Rasanya sedih tapi aku ingin mewujudkan cita-citaku. Walau sebenarnya tabunganku sudah bisa dibuat modal buka rumah makan kecil-kecilan tapi aku berfikir ingin mempunyai rumah sendiri.

Suatu ketika mertuaku melarangku membeli rumah dan disuruh membangun rumah yang dia tinggalinya karena suamiku anak terakhir. Mereka juga bilang rumah itu diberikan kepada kita berdua. Akhirnya aku mulai membangun rumah mertuaku. rumah yang biasa-biasa saja itu telah kusulap menjadi rumah berlantai dua serta di garasi telah kubelikan mobil dengan hasil kerjaku selama sepuluh tahun. Sedangkan setiap bulan gajiku ku kirimkan kepada suamiku tanpa curiga sedikit pun.

Siang itu aku menelpon suamiku dan mengabarkan bahwa satu minggu lagi aku akan pulang. Tetapi dari seberang kudengar jawaban suamiku yang kurang suka dengan keinginanku itu. Aku mencoba menepis perasaanku dengan menghibur hatiku sendiri. Saat yang aku tunggupun telah tiba. Pesawat yang aku tumpangi telah mendarat di bandara juanda sekitar pukul delapan malam. Senyum bahagia dari wajahku melihat suamiku telah menjemputku dengan keluarganya.

Tapi kebahagianku itu tidak berlangsung lama. Dalam waktu seminggu semua telah berubah ketika suatu siang datang seorang gadis muda kerumah mertuaku dan mengaku telah mengandung anak suamiku. Ya Allah , aku benar-benar lemas serta kecewa mendengar pengakuan suamiku yang mengiyakan kabar itu.

Dunia serasa berhenti berputar. Demi anak yang dikandung gadis selingkuhan suamiku aku menuntut cerai suamiku. Tapi yang lebih menyakitkan lagi rumah yang aku bangun dan modal usaha suamiku dari hasil keringatku tak diakuinya dan tidak mau membagi denganku. Mereka mengusirku bahkan meminta aku mengembalikan semua biaya pernikahanku dulu.

Perjuanganku selama sepuluh tahun dinegeri orang terasa sia-sia dengan mempercayai suamiku dan kelurganya yang hanya memperalatku. Bahkan waktu liburku dulu di Hongkong ku buat berjualan kartu telpon serta alat-alat kosmetik demi mancari modal tambahan kini hilang tak dapat kunikmati sedikitpun. Sekarang hanya lelah jiwa dan ragaku.

* Demikian cerita dari sahabatku ”S” yang mungkin juga banyak di alami para tkw yang di zalimi suaminya. Untuk sahabatku “S” tetaplah bersabar ya sayang karena tuhan tidak pernah tidur. Semoga para istri yang berjuang demi keluarga menjadi tkw di luar negeri tidak mengirimkan semua hasil keringatnya kepada suami dirumah. Karena kebanyakan mereka terlena dengan gaji yang anda kirim tiap bulan. So di tabung sendiri aja biar suami yang dirumah cari duit sendiri* Nama dalam cerita diatas sengaja penulis samarkan!

Salam Hangat
KR (fiksi.kompasiana.com)
zzz
21.28 | 0 komentar

Surat Dari Seorang Ibu Yang Terkoyak Hatinya

Surat Dari Seorang Ibu Yang Terkoyak Hatinya





Anakku….Ini adalah surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu.

Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami. Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu.Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu. Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat,

Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan. Anakku…Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ?

Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ? Anakku.. Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukumanpun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat.

Ibu tidak akan sampai hati melakukannya, Anakku… Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…Anakku…Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mata ibu nak, ringankanlah beban kesedihan ibu. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini.

Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”. Anakku…Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu.

----------------------------------------------------------------------------------------
“Wahai, Rabbku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangiku waktu aku masih kecil”.

[forumbebas.com]
zzz
20.50 | 0 komentar

Curhat MENGHARUKAN Seorang Kakek Dari Panti Jompo



INI adalah kisah sedih yang dialami seorang kakek dari panti jompo
yang berhasil di liput oleh blog sebelah.he...100x

Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa Ibu-Ibu tua, tiba-tiba mata teman saya tertumpu pada seorang kakek tua yang duduk menyendiri sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong.

Lalu sang teman mencoba mendekati kakek itu dan mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti sang kakek akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si kakek menceritakan kisah hidupnya.

Si kakek memulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas panjang. “Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus.”

“Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan Biaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.”

“Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak.

Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukannya.”

“Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui telepon. Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak efisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung.”

“Tapi apa yang saya dapatkan ? setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada di rumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan.”

“Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita didalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu.

Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani mereka?”

“Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan?”

“Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.”

“Sekarang sudah 2 tahun saya disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat.

Saya kadang bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri.”

“Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung disini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat – sahabat yang mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya.”

Sejak itu sahabat situslakalaka selalu menyempatkan diri untuk datang kesana dan berbicara dengan sang kakek. Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang kakek berganti dengan keceriaan apalagi kalau sekali-sekali teman saya membawa serta anak-anaknya untuk berkunjung.

Sampai hatikah kita membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita.

Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian ? Ingatlah bahwa tanpa Ayah dan Ibu, kita tidak akan ada di dunia dan menjadi seperti ini.

Jika kamu masih mempunyai orang tua, bersyukurlah sebab banyak anak yatim-piatu yang merindukan kasih sayang orang tua.
zzz
19.39 | 0 komentar

Sajadah Tua Milik Ibu

Sajadah Tua Milik Ibu



Sajadah milik Ibu sudah tua, Bahkan lebih tua dibanding umurku yang kini sudah berkepala tiga. Ketuaan sajadah itu bisa dilihat dari warnanya yang sudah kusam dan susunan serat kainnya yang sudah rapuh sehingga bolong-bolong. Jika dikebat-kebatkan, sehabis digunakan untuk shalat, banyak serpihan serat kainnya berguguran.

Meskipun demikian, Ibu tetap selaiu melakukan shalat dengan menggunakan sajadah tua itu, Padahal, di dalam lemari pakaiannya. ada lima lembar sajadah lain yang bagus-bagus, Sebagai anak semata wayang, yang sudah cukup makmur karena berpenghasiian cukup tinggi sebagai anggota legislatif, aku sangat malu melihat Ibu mengikuti shalat berjamaah di masjid dengan memakai sajadah tuanya itu. Sudah berkali-kali aku memprotesnya, agar membuang atau membakar sajadah luanya itu. Tapi Ibu tak pernah menggubris protesku.

“Aku sangat malu kalau sajadah tua yang sudah layak dibuang ke tong sampah itu tetap Ibu gunakan untuk shalat di masjid,” ujarku dengan kesal, ketika melihat Ibu pulang dari masjid selepas maghrib.

“Kenapa kamu yang malu? Padahal, Ibu tidak malu. Dan Ibu akan selalu memakai sajadah tua ini setiap melakukan shalat di mana pun.”

“Ibu kolot!”

“Ya, maklumlah. Orangtua memang harus kolot.”

“Ibu tidak mau bersyukur.”

“Apa katamu? Justru Ibu bersyukur, karena bisa tetap melaksanakan shalat dengan sajadah tua ini.”

Aku ingin berdebat lagi. Tapi rasanya percuma saja berdebat dengan Ibu yang sudah terlanjur menyukai sajadah tuanya itu. Lalu aku teringat riwayat sajadah tua itu.

Konon, sajadah tua itu merupakan mas kawin yang diberikan oleh Ayah (sekarang almarhum) ketika menikahi Ibu. Dan konon, Ayah memang sedang miskin, tak punya uang, dan satu-satunya barang berharga yang bisa digunakan untuk mas kawin adalah sajadah tua itu.

Dan konon pula, sajadah tua itu bukan dibeli oleh Ayah, melainkan merupakan hadiah istimewa dari Ustadz Baasyir. Ayah mendapat hadiah istimewa berupa sajadah tua itu dari Ustad Baasyir, karena Ayah berhasil menghapal 30 juz Al-Qur’an dalam usia 20 tahun. Begitulah, semasa mudanya. Ayah memang menjadi santri di pondok milik Ustadz Baasyir untuk belajar menghapal Al-Qur’an.

***

MALAM itu sudah larut. Ibu sudah tidur. Istriku juga sudah tidur bersama anak-anak, Tapi aku masih saja duduk termenung di ruang kerjaku. Pikiranku rasanya tegang, karena tetap merisaukan sajadah tua milik Ibu yang tetap selalu dipakainya untuk shalat di masjid. Seandainya sajadah tua itu hanya dipakai untuk shalat di rumah, mungkin tidak akan merisaukanku.

Tiba-tiba aku mendapat gagasan jahat: Mencuri, lalu membuang atau membakar sajadah tua itu, agar Ibu bersedia memakai sajadahnya yang lain yang bagus-bagus, Ya, aku memang harus mencurinya. Dan tanpa berpikir panjang lagi, segera aku memasuki kamar Ibu dan mencuri sajadah tuanya itu. Sebagaimana maling, langkahku bersijingkat, sangat pelan, ketika masuk dan kemudian keluar dari kamar Ibu dengan membawa sajadah tua itu. Tapi, sebelum aku keluar dari kamar Ibu, jendelanya kubuka lebar-lebar, agar mengesankan ada maling betulan yang telah memasuki kamarnya dan kemudian mencuri sajadah tuanya itu.

Begitulah, sajadah tua milik Ibu kemudian kusembunyikan di dalam almari buku di ruang kerjaku. Aku tidak tega jika langsung membuang atau membakarnya. Aku masih dihinggapi perasaan iba dan khawatir. Ya, aku pasti kasihan jika melihat Ibu bersedih gara-gara kehilangan sajadah tuanya itu. Dan aku tidak ingin Ibu kemudian jatuh sakit karena terus menerus bersedih.

Malam semakin larut, Dan aku kemudian tidur bersama istri dan anak-anak. Dan menjelang waktu subuh, seperti biasanya Ibu bangun tidur dan langsung mandi serta berwudhu sebelum kemudian berangkat ke masjid untuk mengikuti shalat subuh berjamaah.

“Maling sial! Maling terkutuk! Kenapa sajadah tua yang tidak mungkin bisa dijual harus kamu curi, maling terkutuk?!” teriak Ibu berulang-ulang sambil menangis. Aku dan istriku tersentak bangun.

“Cepat keluar, Mas. Mungkin ada maling yang telah memasuki kamar Ibu,” perintah istriku dengan wajah panik.

Dengan sikap tenang, aku beranjak ke kamar ibu. Dan aku sangat terkejut ketika melihat Ibu tergeletak lemas di lantai kamar. Segera kuangkat Ibu untuk kubaringkan di atas ranjangnya. Mata Ibu terbuka lebar-lebar, dan bibirnya bergerak-gerak membisikkan kata-kata kutukan: “Maling terkutuk. Maling terkutuk. Maling terkutuk.”

Dadaku berdebar-debar mendengar kutukan Ibu yang diulang-ulang itu. Aku merasa sangat bersalah dan menyesal, karena telah menjadi maling yang mencuri sajadah tua milik Ibu itu. Aku sangat takut, jika kutukan Ibu dikabulkan oleh Tuhan. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Aku tidak akan mengaku telah mencuri sajadah tua itu kepada siapa pun, khususnya kepada Ibu dan istriku.

Sebab, aku yakin, jika aku mengaku telah mencuri sajadah tua itu, maka Ibu akan menuntutku agar mengembalikannya dan kemudian Ibu kembali akan memakainya untuk shalat sebagaimana biasanya. Tidak. Aku tidak mau menanggung malu terus menerus gara-gara Ibu selalu memakai sajadah tuanya itu untuk shalat di masjid.

Istriku menyusulku ke kamar Ibu. Dan setelah melihat Ibu nampak habis terserang stroke, istriku kemudian menatap jendela yang terbuka lebar-lebar itu.

“Pasti malingnya masuk lewat jendela itu, Mas,” tebak istriku.

“Ya, mungkin saja.”

“Tapi aneh rasanya, ada maling kok sudi mencuri sajadah tua yang pasti tidak akan bisa dijual,” lanjut istriku dengan kening berkerut.

“Mungkin malingnya punya tujuan khusus, Misalnya, ingin mendapatkan jimat. Konon, sajadah tua memang bisa digunakan untuk jimat,” ujarku. Ibu masih saja membisikkan kalimat kutukan terhadap maling yang telah mencuri sajadah tuanya. Dan aku mendengarnya dengan hati yang semakin berdebar-debar. Aku takut jika kutukan Ibu menimpa diriku. Lalu, dengan lembut aku dan istriku menghibur Ibu.

“Sudahlah, Bu. Lupakan saja sajadah tua yang telah dicuri oleh maling itu. Bukankah Ibu masih punya lima sajadah yang bagus-bagus?” hibur istriku. “Doakan saja semoga malingnya bertobat, dan kemudian rajin melakukan shalat dengan menggunakan sajadah tua yang dicurinya itu, Bu. Sebaiknya Ibu mengikhlaskannya dan memaafkan malingnya, agar Ibu mendapat banyak pahala,” hiburku.

Ibu kemudian tidak membisikkan lagi kalimat kutukan. Tapi untuk selanjutnya, Ibu tidak bisa bangkit lagi, tetap saja terbaring, karena menderita lumpuh.

Dengan demikian, setiap melakukan shalat, Ibu tidak membutuhkan sajadah lagi, karena shalatnya dilakukan sambil berbaring. Istriku ikut-ikutan mengutuk maling yang telah mencuri sajadah tua milik Ibu, yang membuat Ibu jatuh sakit dan menderita kelumpuhan permanen itu.

“Gara-gara maling sial dan terkutuk itu, aku jadi repot sekali merawat Ibu,” gerutu istriku menjelang tidur.

Mendengar istriku mengutuk maling yang sebenarnya adalah diriku, aku semakin ketakutan. Sebab, konon, kutukan seorang Ibu, juga istri, bisa menjadi kenyataan.

***

SEBAGAI anggota legislatif dari partai reformis, aku dikenal bersih dan anti korupsi. Bahkan, gara-gara aku menjadi tokoh reformasi yang sering lantang menentang korupsi, kemudian aku direkrut masuk partai kemudian berhasil duduk sebagai anggota legislatif.

Tapi, setelah aku menjadi maling yang mencuri sajadah tua milik Ibu, beberapa rekanku yang gemar melakukan korupsi suka membujukku agar ikut-ikutan melakukan korupsi.

“Pada masa kini, menjadi orang jujur bisa justru ajur. Dan menjadi orang bersih bisa justru tersisih!” ujar rekanku.

“Pada mulanya, melakukan korupsi memang sangat merisaukan hati. Tapi, jika kita melihat kenyataan yang ada, betapa korupsi adalah sesuatu yang wajar, maka perasaan risau itu dengan sendirinya akan sirna,” tutur rekanku yang lain.

Begitulah. Mula-mula, aku mencoba ikut-ikutan melakukan korupsi dana proyek rehabilitasi jalan-jalan dan jembatan yang sengaja digelembungkan. Dan hasil korupsi itu kemudian kugunakan untuk membeli mobil mewah.

“Uang dari mana yang kamu gunakan untuk membeli mobil mewah ini, Mas?” tanya istriku ketika aku pulang membawa mobil mewah tipe terbaru yang harganya hampir satu milyar rupiah itu.

“Ini hadiah istimewa dari Pak Gubernur, karena aku dan rekan-rekan telah berhasil mengesahkan undang-undang baru yang sangat menguntungkan pihak eksekutif,” jawabku berbohong.

“Oh, begitu. Aku kira kamu sudah mulai suka melakukan korupsi, Mas.”

“Eh, jangan suka berprasangka buruk. Jelek-jelek begini, aku tetap punya moral dan sejak dulu dikenal sebagai tokoh reformis yang anti korupsi.”

Dan sejak punya mobil mewah, tiba-tiba aku gemar menghabiskan waktu di tempat-tempat hiburan. Mungkin karena selalu risau, maka aku membutuhkan hiburan. Mula-mula, aku mencoba mencicipi minuman keras, agar punya pengalaman mabuk. Konon, dengan mabuk seseorang bisa mengusir rasa risau di hatinya.

Lalu, karena di tempat hiburan ada banyak cewek cantik yang siap menghiburku, maka aku pun kemudian mencoba mengajak seorang cewek cantik yang mengaku masih kuliah itu, Dan sehabis berc**ta dengan cewek cantik itu, tiba-tiba kelaminku sangat gatal dan panas. Lalu segera aku berobat ke dokter.

“Anda terkecoh,” kata dokter. “Cewek itu pasti psk profesional yang menderita penyakit kelamin kronis. Sebaiknya Anda melakukan tes darah. Siapa tahu, Anda bukan hanya tertular kencing nanah, tapi juga AIDS.”

Dengan sedih dan panik, aku kemudian menjalani tes darah. Dan hasilnya ternyata positif: Aku telah tertular virus mematikan itu.

***

SEBAGAI pengidap AIDS, aku merasa betapa hari kematianku sangat dekat. Aku sangat marah, menyesal, dan putus asa. Perilakuku semakin buruk. Semakin sering aku terlibat kasus korupsi, dan hasilnya kugunakan untuk berfoya-foya di tempat-tempat hiburan. Istriku nampak bersikap toleran, karena telah mendapatkan semua gajiku perbulan yang cukup besar.

Sedangkan untuk merawat Ibu sehari-hari, istriku sudah punya dua orang pembantu di rumah. Dan sebagai istri anggota legislatif, istriku pun semakin gemar berbelanja mewah dan mencoba memasak berbagai menu sesuai dengan resep-resep terbaru yang dimuat di majalah-majalah.

Suatu malam, istriku memprotesku, karena sudah lama aku tidak mengajaknya berc**ta.

“Kamu sudah bosan denganku, ya? Atau, jangan-jangan kamu suka main serong atau bahkan punya simpanan?”

“Memangnya aku ini orang yang bias santai? Maklumlah, aku ini anggota legislatif, yang selalu sibuk dan capek setiap hari,” tukasku.

Ya, setiap kali aku pergi ke tempat-tempat hiburan atau berc**ta dengan psk di hotel, selalu aku pamit hendak mengikuti rapat tertutup. Dan istriku selalu mempercayai kata-kalaku. Dan jika aku tidak pernah lagi mengajaknya berc**ta, semata-mata karena aku sayang kepada keluarga. Aku tidak ingin istriku tertular penyakit AIDS. Namun, malam itu, istriku benar-benar bergairah dan memaksaku berc**ta. Maka aku pantang menolak, apalagi istriku berseloroh bahwa dia telah menyangsikan keperkasaanku, karena aku terus menerus sibuk dan capek.

Dan setelah berc**ta denganku, istriku menderita flu berat. Dan setelah berobat ke dokter, istriku tidak kunjung sembuh. Lalu dokter memintanya untuk menjalani tes darah. Dan hasilnya, istriku positif dinyatakan mengidap AIDS.

“Rupanya kamu telah berbohong kepadaku, Mas. Kamu telah berkhianat. Kamu tega menularkan penyakit AIDS kepadaku. Kamu kejam, Mas.”

Istriku menangis dan meratap-ratap. Aku sangat iba dan ikut-ikutan menangis. Kukatakan bahwa nasibku yang sial mungkin karena dikutuk oleh Ibu, gara-gara aku mencuri sajadah tua itu.

“Di mana sajadah tua itu sekarang, Mas?” tanya istriku. “Kalau masih ada. cepat serahkan kembali kepada Ibu. Dan kamu harus minta maaf kepadanya.”

Dengan terpaksa, aku segera mengambil sajadah tua yang kusimpan di lemari buku di ruang kerjaku. Lalu segera kuberikan sajadah tua itu kepada Ibu.

Sungguh ajaib. Ibu langsung bangkit dan tidak lumpuh lagi, begitu melihat sajadah tuanya. Segera ibu menciumi sajadah tuanya itu, sebelum kemudian bergegas mengambil wudhu dan melakukan sujud syukur dengan menggunakan sajadah tuanya itu. Dan untuk selanjutnya, Ibu kembali melakukan shalat lima waktu di masjid dengan sajadah tuanya itu.

Sementara itu, nasibku dan nasib istriku semakin buruk. Bahkan, istriku harus dirawat di rumah sakit dengan diperlakukan khusus sebagai pasien AIDS. Istriku ditempatkan di kamar khusus, mirip karantina, karena kondisinya semakin memburuk. Tidak ada pembesuk yang dibolehkan menemuinya, kecuali aku dan anak-anak.

Tubuhku juga semakin lemah dan kurus. Tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan tetap menjalankan tugas-tugasku sebagai anggota legislatif. Dengan mobil mewah, aku pergi dan pulang kerja. Dan jika pikiranku sangat risau dan sedih, segera aku pergi ke hotel dan bercinta dengan psk cantik.

Suatu malam, ketika aku sedang berc**ta dengan psk cantik di hotel, tiba-tiba HP-ku berdering. Rupanya ada telepon dari rumah sakit tempat istriku dirawat.

“Istri Anda telah diambil oleh Tuhan. Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.”

Dengan terburu-buru, aku segera melarikan mobilku kencang-kencang menuju rumah sakit. Padahal, aku sangat letih dan setengah mabuk akibat minuman keras yang habis kureguk. Dan ketika melesat melewati tikungan yang cukup ramai, mobilku lerlalu kencang berlari, sehingga beberapa becak yang memadati jalan kutabrak dengan keras, sebelum kemudian mobilku membentur keras-keras pagar jalan.

Teriakan-teriakan umpatan dan kutukan para tukang becak sangat menakutkanku. Mobilku telah ringsek. Aku tetap duduk di belakang setir yang menjepit dadaku. Aku masih sadar, dan bisa melihat beberapa tukang becak mengumpat-umpat dan mengutukku sambil menyulut bensin yang tumpah di bawah mobilku. Aku pun masih bisa melihat api mulai berkobar membakar mobilku, sebelum kemudian membakar tubuhku.

Aku sangat yakin, meski aku telah mati, betapa esok pasti koran-koran memuat di halaman pertama gambar mobilku yang terbakar bersama diriku yang telah hangus. Dan di bawannya, ada tulisan singkat: Seorang anggota dewan legislatif mengalami kecelakaan tragis.
zzz
11.52 | 0 komentar

Suamiku Kini Telah Tiada Tetapi Penyesalanku Akan Terus Ada

Suamiku Kini Telah Tiada Tetapi Penyesalanku Akan Terus Ada (True Story)



Kisah nyata yang akan membuat setiap orang terharu setelah membacanya ini saya dapatkan dari sebuah notes di facebook bernama Rina Amalina, semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua terutama bagi kaum hawa yg sudah berkeluarga. Saya memberanikan diri untuk sharing tulisan ini disini karena di notes tersebut tertulis :

Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara, teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.”

Jadi atas dasar itu saya mencoba untuk membantu sharing disini, syukur2 teman2 disini juga akan melakukan sharing di tempat laen dan tetap tanpa lupa etika dalam melakukan sharing terhadap tulisan orang lain adalah memberikan sumbernya. Berikut kisahnya :

Ini adalah kisah nyata di kehidupanku. Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada. Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku. Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku.

Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah, tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah. Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku, tak mengerti aku, dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi kini aku tahu. Semua ucapanku selama ini salah dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada. Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya. Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.

Dia berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang, mas anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali, alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang, lalu bagaimana aku bisa makan siang.”

Saat itu tertegun, aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga, tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”

Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat. Teringat akan amarahku pada suamiku, aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan, dia tak pernah peduli pada anak kita.

Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi:

Perusahaan kecil CV. Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera.

Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa, kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran.

Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin, sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.

Membaca itu, benar2 baru kusadari betapa suamiku menyayangi putraku, betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ ibu capai? istirahat dulu saja”. Dengan kasar kukatakan, “ya jelas aku capai, semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak, urus cucian, masak, ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.”

Sungguh, bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya, tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami.

Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku.
“Pak kenapa cari klinik yang termurah? saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula”

Dan suamiku menjawab, “tak usahlah terlalu mahal. Aku hanya ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”

Ya Robb..Maafkan hamba-Mu Ya Allah, hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini.

Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada. Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.

Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.
Banggalah pada suamimu, karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.
Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.
Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu. Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar. Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku bangga padamu, aku sayang padamu.

Istrimu
Rina

Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara, teman, kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
------------------------------------Selesai-------------------------------------------

Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan kepada Ibu Rina semoga lebih tabah. Kepada Alm. Bpk. Anwar semoga diberikan tempat terbaik di surga.

dari kisah ini saya harap tidak ada yg menyalahkan siapa2. cukup sebagai renungan dan perbaikan kita bersama.
zzz
11.22 | 0 komentar

Tentara Buntung Yang Malang

inilah kisah Tentara Buntung Yang Malang



Seorang tentara pulang kenegaranya setelah melakukan misi perang dinegara lain. Sesampainya ia dinegaranya ia tak langsung pulang kerumahnya, tapi menginap disebuah hotel berbintang.

Sesampainya dia dihotel ia menelpon keluarganya, dan yang mengangkat telepon adalah ayahnya.
“Halo” sapa sang anak.
“Iya halo” Balas ayahnya.
“Ayah ini aku anakmu, aku sudah pulang dari misi perang”

Ayahnya sangat terkejut dan gembira sekali anaknya selamat dari medan perang.
“Sekarang dimana kau nak?”
“Aku menginap dihotel berbintang”

“Oh nak, kenapa kau tidak langsung pulang kerumah kami semua sangat merindukanmu”
“Sore ini aku akan pulang kerumah yah, tp aku punya satu permintaan”

“Baiklah apa yang bisa ayah lakukan untukmu”
“Bolehkah aku membawa seorang teman untuk tinggal dirumah bersama kita selamanya?”

“Oh baiklah temanmu adalah teman ayah juga”
“Tapi dia kehilangan satu kaki & satu tangannya saat berperang”

Mendengar hal itu ayahnya terdiam sejenak.
“Halo Ayah masih disana?” Tanya anaknya.

Dan Ayahnyapun memberikan jawaban.
“Baiklah nak silahkan bawa temanmu kerumah tapi hanya beberapa hari saja, karena kalau ia tinggal bersama kita dalam waktu yang lama kita akan sangat kerepotan mengurusinya. Kita harus melayaninya karena orang seperti itu tidak bisa melakukan apa-apa seperti kita. Sudahlah nak ingatlah keluargamu lebih penting dari orang itu.”

Kini sang anaklah yang terdiam.
“Baiklah yah, bisakah kau jemput aku sekarang dihotel ini, aku tak akan membawa temanku kerumah” Setelah itu ia menutup telponnya.

Dengan perasaan yang gembira ayahnya mengiyakan permintaan anaknya.

Karena rasa bangga pada anaknya yang telah pulang sebagai pahlawan bagi negaranya, sang ayah memberitahukan pada seluruh keluarga dan sanak familynya bahwa ia akan menjeput anaknya, seluruh keluargapun sangat gembira mendengarnya dan sebagian sanak keluarga turut ikut menjemputnya.

Sesampainya dihotel itu sang ayah bingung karena didepan hotel banyak polisi dan orang-orang berkerumun, dan sang ayah turun dari mobilnya untuk mencari tau apa yang terjadi.

” Pa apa yang terjadi disini?” Tanyanya pada seorang polisi.
“ada seorang tamu hotel yang bunuh diri meloncat dari lantai 20″ jawab polisi itu.

“Pendek sekali pikiran orang itu ya pak?” katanya berbasa-basi sambil ia membalikan badan untuk kembali kemobilnya.

Baru beberapa langkah dia berjalan polisi itu mengatakan hal yang mengejutkannya.
“Memang mengerikan pak, mungkin ia putus asa karena ia hidup tanpa satu tangan & satu kaki”.

Mendengar hal itu sang ayah sangat terperanjat dan kembali menghampiri polisi itu.

“Boleh kulihat jasadnya pak?”
“Silahkan mungkin kau mengenalnya, karena identitas orang ini belum diketahui” kata polisi itu sambil mengantarkannya kekantong mayat.

Setelah kantong mayat itu dibuka alangkah pedihnya hati sang ayah karna dikantong mayat itu yang terbujur kaku adalah jasad anaknya yang tanpa satu tangan & satu kaki.

~~~

Sahabat, Mengasihilah pada sesama tanpa pandang bulu, karena tak ada satupun manusia yang dilahirkan secara sempurna. Tapi jangan pernah lupakan bahwa manusia diciptakan bukan tanpa kelebihannya masing-masing.

Orang yang bahagia bukanlah orang yang tinggal ditempat tertentu, melainkan orang dengan sikap-sikap tertentu.
zzz
11.02 | 0 komentar

Jangan Benci Aku, Mama......

Jangan Benci Aku, Mama......




Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.

Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.

Saat usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja.

Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.......... telah berlalu sejak kejadian itu.

Kini Aku telah menikah kembali dengan Beni, seorang pria dewasa yang mapan. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama caya? caya lindu cekali cama Mama!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,
"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"
"Nama caya Elik, Tante."
"Erik? Erik... Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?"

Aku langsung tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala. Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu.

Ya, sepertinya saya memang harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di pikiranku. Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik...sabar ya nak...."

Sore itu aku memarkir mobil biruku di samping sebuah gubuk, dan Beni suamiku dengan pandangan heran menatapku dari samping. "Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu." tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.

Ternyata Tuhan sungguh baik kepadaku. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari mobil diikuti oleh suami dari belakang. Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter didepan. Aku mulai teringat betapa gubuk itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik..... Erik......

Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun aku tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Aku mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari, baju butut yang kadang aku sendiri jijik mencucinya......

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, aku pun keluar dari ruangan itu... Air mataku mengalir dengan deras. Saat itu aku hanya diam saja. Sesaat kemudian aku dan suami mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba - tiba aku melihat seseorang di belakang mobil kami. Aku sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!"

Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?"

Tiba - tiba Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya seraya memanggil, 'Mamaaa..., Mamaaa!'

Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan & mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu....."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...
"Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi...? Mama benci ya sama Erik? Ma...., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji ya, kalau Mama tidak akan benci lagi sama Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, ......"

Aku menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!" Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal persis di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ...

Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa Anda sungguh tidak terampuni!"

Aku kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.
zzz
10.36 | 0 komentar
~ Ebook Best Seller Indonesia ~
dvd
dvd
Metode Solusi Pria

Rahasia Payudara

Peninggi Badan

~bisnis online ~
smuo
Rahasia Blogging
rumus bikin duit
Cara Memikat Wanita
.
Metode Suami Perkasa
.
Ebook Kamasutra
.